BAB keadaan seperti itu sulit dicapai. Dengan demikian terjadilah

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A.   
Latar Belakang

Secara teori, pasar kompetitif memberikan
kondisi yang dibutuhkan untuk efisiensi ekonomi dalam produksi dan konsumsi,
dan juga sebagai pertukaran (Phang, 2013). Hal tersebut dapat tercapai bila
pelaku bersifat rasional, memiliki informasi sempurna, pasar dalam bentuk persaingan
sempurna dan barang bersifat private. Namun kenyataannya, keadaan seperti itu
sulit dicapai. Dengan demikian terjadilah kegagalan pasar.

Kegagalan
pasar terjadi karena ketidakseimbangan antara makimal utilitis dan maksimal
profit, dan tentunya ada pihak yang dirugikan (http://planningandpublicpolicy.blogspot.co.id/2015/02/case-close.html). Theorem of welfare economics menyatakan bahwa pada saat kegagalan
pasar terjadi ekulibrium kompetitf dan pareto yang optimal dicapai melalui
lumpsum transfer (Sandmo, 1995). Hal tersebut membuat pemerintah melakukan intervensi
untuk menjamin adanya efisiensi,
pemerataan, dan stabilitas ekonomi berupa kebijakan dalam bentuk pajak, subsidi
maupun pengeluaran publik.

 

B.     Rumusan
Masalah

 

1.      Apa
saja faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan pasar?

2.      Apa
saja peran pemerintah dalam mengatasi kegagalan pasar?

 

C.    
Tujuan

1.        
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab
terjadinya kegagalan pasar

2.        
Untuk mengetahui peran pemeritnah dalam
mengatasi kegagalan pasar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN
PUSTAKA

 

A.      Defenisi
dan fungsi Pasar

 

Pasar merupakan tempat terjadinya permintaan
dan penawaran atas barang-barang dan jasa yang diperdagangkan (Gilarso, 2004). Adapaun
fungsi pasar yang utama yaitu sebagai tempat penyaluran, tempat terbentuknya
harga dan sebagai sarana promosi (https://alihamdan.id/struktur-pasar/).

1.      Pasar
sebagai sarana distribusi

Fungsi pasar sebagai tempat penyaluran yaitu
untuk memudahkan produsen menyalurkan barangnya ke tangan konsumen secara
langsung. Melalui pasar, produsen dan konsumen dapat menjalin hubungan secara langsung
dan tidak langsung dalam hal menawarkan barang atau jasa. Jika aliran
distribusi barang atau jasa dari produsen ke konsumen lancer maka pasar sebagai
sarana dsitribusi berfungsi dengan baik dan sebaliknya.

2.     
Pasar sebagai pembentuk harga

Maksud dari fungsi
pembentukan harga yaitu pasar sebagai tempat dalam menentukan harga atau nilai
suatu barang, hal ini disebabkan karena pasar merupakan bertemunya penjual dan
pembeli yang saling melakukan interaksi atau saling tawar-menawar sehingga
muncullah kesepakatan harga

3.     
Pasar sebagai sarana promosi

Pasar
sebagai sarana memperkenalkan dan menginformasikan produk bagi produsen kepada
konsumen. Banyak cara promosi yang dilakukan oleh produsen agar membuat
konsumen tertarik dan sleekftif dalam membeli barang yang akan dibeli.

B.       Defenisis
Kegagalan Pasar

 

Menurut id.wikipedia.org bahwasanya dalam
ekonomi mikro, makna “kegagalan pasar” tidak berarti sebuah pasar tidak
berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar
efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen (https://www.kompasiana.com/hodri). Ekonom
normalnya memakai istilah ini pada situais dimana inefisiensi sudah dramatis
atau ketika disugestikan bahwa institusi non pasar akan meberikan hasil yang
diinginkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan pasar adalah
kondisi dimana suatu pasar tidak dapat menjalankan secara sempurna sesuai
dengan fungsi awal sebagai pasar dan situasi dimana semua kekuatan yang ada
dalam pasar, permintaan dan penawaran, berasa dalam keadaan ketidakseimbangan
(id.wikipedia.org)

sumber :google.com

 

C.       Penyebab
Kegagalan Pasar (Market Failure)

Terdapat 6 (enam) faktor penyebab kegagalan pasar
yaitu:

1.     
Kegagalan
dari persaingan (failure of competition).

Kompetisi yang tidak sempurna sebagai contoh harga di pasar dapat
terdistorsi oleh kekuatan-kekuatan pembeli dan penjual berupa monopsoni, monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari
kekuasaan pasar dimana sebuah pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh
signifikan pada harga atau keluaran (http://renamei77.student.umm.ac.id/2010/01/30/mikro-kegagalan-pasar/).
Dengan kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang tertentu baik berupa uang
ataupun barang, harga daapt mereka tentukan. Tentunya ini dapat berakibat buruk
bagi pelaku pasr lain yang membutuhkan barang ataupun jasa tersebut (http://ajishida.blogspot.com/2009/04/kegagalan-pasar.html).

2.     
Adanya
barang publik (public good)

Menurut Buchanan (1967) barang publik adalah barang
yang tersedia untuk semua orang (non rival) dan bersifat non ekslusif.
Sedangkan Musgrave (1959) menyatakan bahwa apa yang dinamakan “barang-barang
yang bermanfaat” bias jadi sebagian tidak masuk kategori barang public
dikarenakan barang tersebut tidak memenuhi kualifikais atau standar non
ekslusif. Ini berarti: konsumsi atas barang tersebut oleh suatu individu tidak
akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh individu
lainnya; dan noneksklusif berarti semua orang berhak menikmati manfaat dari
barang tersebut. Sebagai contoh: jalan raya adalah barang publik, banyaknya
pengguna jalan tidak akan mengurangi manfaat dari jalan tersebut; semua orang
dapat menikmati manfaat dari jalan raya (noneksklusif); dan jalan raya dapat digunakan
pada waktu bersamaan.

Istilah barang publik sering digunakan untuk
merujuk pada barang yang non-eksklusif dan barang non-rival. Ini berarti bahwa
tidak mungkin mencegah seseorang untuk tidak mengkonsumsi barang publik. Udara
dapat dimasukkan sebagai barang publik karena secara umum tidak mungkin
mencegah seseorang untuk menghirupnya. Barang-barang yang demikian itu sering
disebut sebagai barang publik murni.

3.      Eksternalitas

Eksternalitas atau biasa
disebut spoiler effects merupakan
biaya atau dapat berupa manfaat yang timbul akibat perbuatan dari pihak lain
naumn tidak dapat direfleksikan dalam harga pasar  (ulbrich, 2003).

Eksternalitas timbul karena
tindakan konsumsi atau produksi dari satu pihak mempunyai pengaruh terhadap
pihak yang lain dan tidak ada kompensasi yang dibayar oleh pihak yang terkena
dampak tersebut (Wicaksono, 2012). Ada eksternalitas positif dan eksternalitas
negatif. Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program
kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas
negatif terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau
saluran air. Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari
pemerintah, pajak, atau subsidi, atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa
perusahaan atau perorangan untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada
taraf yang seharusnya

4.     
Pasar tidak lengkap

5.     
Informasi yang asimetris (informasi
yang inefisien)

Informasi asimetris terjadi
ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan
baik dari pihak yang lain. Atau salah satu pihak yang bernegosiasi di
pasar memiliki informasi yang berhubungan dengan barang yang diperdagangkan
sementara pihak lain tidak. Ketidaksamaan informasi ini dapat mengakibatkan
keuntungan bagi salah satu pihak dan kerugian bagi pihak yang lain. Misalnya
seseorang yang berniat menjual tanah, tetapi tidak mengetahui harga transaksi
yang terjadi pada beberapa waktu terakhir. Maka si penjual berpotensi mengalami
kerugian dibandingkan calon pembeli yang telah memiliki informasi tersebut.
Kerugian penjual terjadi akibat tidak dimilikinya informasi yang berakibat
ketidakmampuannya untuk memperoleh harga yang adil sesuai kehendak pasar yang
efisien. Contoh lainnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana
mobil tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi
yang tidak tersedia bagi pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi
lebih baik dari penjual merupakan penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan
kesaksian penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini
mungkin memiliki informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota
keluarga yang ditinggalkan. Mengenai hal tersebut George Akerlof menggunakan
istilah informasi asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari bahwa dalam
pasar seperti itu nilai rata-rata dari komoditas cenderung
menurun bahkan untuk kualitas yang sangat sempurna kebaikannya, karena para
pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli
akan menjadi sebuah “lemon” (produk yang menyesatkan) atau sebaliknya (Arkelof,
1970). Lebih
jauh lagi, informasi yang asimetris dapat mengakibatkan biaya transaksi yang
lebih tinggi. Biaya ini terjadi karena adanya kebutuhan akan jasa broker atau
perantara. Biaya tersebut adalah beban yang harus dibayar untuk kebutuhan
informasi mengenai keadaan harga pasar yang sesungguhnya di samping informasi
mengenai calon pembeli atau penjual. Kedua kondisi tersebut merupakan potensi
penyebab dari inefisiensi pasar yang pada gilirannya akan mengakibatkan
kegagalan pasar.

Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau
ketidak pastian (informasi yang inefisien) . Informasi asimetris terjadi ketika
salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan baik
dari pihak yang lain. Biasanya para penjual yang lebih tahu tentang produk
tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini.
Contoh lainnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana mobil tersebut
telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang tidak
tersedia bagi pembeli

6.     
Adanya
pengangguran, inflasi, dan ketidakseimbangan (unemployment, and other macroeconomic disturbances

 

 

D.      Solusi
Kegagalan Pasar (Market Failure)

Dalam mengatasi kegagalan pasar, tentunya peran pemerintah
sangat dibutuhkan antara lain :

1.     
Pemerintah mengupayakan atau dapat
menahan dalam hal penimbunan barang terutama pada saat terjadi kelangkaan
dengan tujuan untuk menaikkan harga.

2.     
Membuka akses informasi

3.     
Memberlakukan
undang-undang khusus. Misalnya, melarang merokok di restoran,

4.     
Pemerintah
mengendalikan persediaan barang yang memiliki eksternalitas positif. Misalnya,
dengan menyediakan jumlah pendidikan tinggi, taman, atau perpustakaan.

5.     
Memberikan
subsidi dengan cara mengurangi harga barang yang didasarkan pada kepentingan
publik yang diperoleh. Misalnya, menurunkan biaya kuliah karena manfaat
masyarakat dari pekerja yang berpendidikan lebih tinggi. Subsidi yang paling
tepat untuk mendorong perilaku yang memiliki eksternalitas positif.

6.     
Melakukan
kerjasama internasional antara pemerintah dalam isu-isu yang mempengaruhi masa
depan lingkungan.

 

E.      
Tujuan campur tangan pemerintah

1.     
Menjamin
agar kesamaan hak untuk setiap individu tetap wujud dan penindasan dapat dihindarkan.

2.     
Menjaga
agar perekonomian dapat tumbuh dan mengalami perkembangan yang teratur dan
stabil.

3.     
Mengawasi
kegiatan-kegiatan perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan besar dapat
mempengaruhi pasar agar mereka tidak menjalankan praktek-praktek monopoli yang
merugikan.

4.     
Menyediakan
barang bersama yaitu barang-barang seperti jalan raya, polisi dan tentara yang
penggunaannya dilakukan secara kolektif oleh masyarakat untuk mempertinggi
kesejahteraan sosial masyarakat.

5.     
Mengawasi
agar eksternalitas kegiatan ekonomi yang merugikan masyarakat dihindari atau
dikurangi masalahnya

 

F.       
Artikel terkait

Ada beberapa halyang terkait dalam
jurnal yang dibahas :

Ø  Jurnal ini berkaitan dengan
informasi asimetris yang ada dalam kegagalan pasar

Ø  Informasi asimetri membahas kualitas
dan ketidakpastian yang berkaitan dengan teori Arkelof

Ø  Pembahasan mengenai kegagalan pasar
(market failure) berkaitan dengan
artikel  Birbaum

 

Berangkat
dari teori Arkelof yang mengasumsikan bahwa dalam pasar mobil bekas ada mobil
yang merupakan barang ‘lemon’ dan adapula yang memiliki kualitas baik .
Istilah ini berasal dari demonstrasi Akerlof tentang konsep informasi asimetris
melalui contoh mobil bekas cacat, yang dikenal sebagai lemon di pasar. Apabila
pembeli dapat mengetahui mobil mana yang ‘lemon’ dan mana yang bukan, tentu
dapat menimbulkan dua pasar yang berbeda yakni, pasar untuk ‘lemon’ dan pasar
untuk mobil dengan high quality. Masalah lemon ini dapat diselidiki menggunakan
dua jenis informasi yang dibawa dalam pasar yakni informasi asimetris dan
informasi simetris.

Informasi
asimetris sendiri merupakan kesennjangan informasi yang dimiliki antara penjual
dan pembeli. Informasi asimetris ini yang dapat menyebabkanmarket failures. Market
failures ini dijadikan sebagi justifikasi untuk intervensi pemerintah.

Akerlof
mengasumsikan bahwa tuntutan mobil bekas tergantung pada harga mobil bekas,
pasokan mobil bekas dan kualitas mobil yang ada tergantung pada harga. Jadi apabila
harga turun, kualitas juga ikut menurun.

Dari
teori utilitas, dua jenis penjual baik dengan informasi asimetris ataupun
simetris masuk didalamnya. Dengan mengamati pendapat dari dua jenis penjual,
tuntutan untuk mobil bekas akan menjadi jumlah dari tuntutan kedua jenis
penjual (simetris dan asimetris). Informasi asimetris muncul ketika pihak yang
bertransaksi tidak memiliki derajat yang sama terhadap informasi yang
diperlukan untuk membuat keputusan. Misalnya, di pasar untuk mobil bekas,
pembeli umumnya tidak dapat memastikan nilai kendaraan secara akurat dan karena
itu pembeli hanya bersedia membayar harga rata-rata untuk mobil tersebut.
Pembeli kebanyakan tidak dapat mengetahui mobil mana yang ‘lemon’, namun
sebaliknya penjual pasti mengetahui kualitas mobil yang dijualnya.

Artikel
yang diterbitkan oleh Birbaum juga menjelaskan mengenai kegagalan pasar.
Birbaum mengungkapkan kegagalan pasar yang terjadi pada pasar pemain Baseball
juga terindikasi sebagai “lemon” dan terdapat aismetris informasi didalmnya.
Namun pada pemain baseball, Birbaum tidak memperdebatkan intrvensi pemerintah.

Ada
beberpa hal yang menjadi alasan mengapa informasi asimetris pada umumnya tidak
menjadi masalah bagi pasar lain dimana 
intervensi pemerintah lazim terjadi. Untuk mengethauinya, pemeriksaan
pertama dilakukan pada pasar mobil bekas yang tidak dipenuhi lemon.

Berdasarkan artikel
Arkelof, ada dua hasil yang mungki terjadi di pasar dimana penjual memiliki
lebih banyak informais daripada pembeli

Hasil I :

u  Penjual memiliki banyak informasi
dibanding pembeli.

u  Jika pembeli tidak dapat membedakan
antara mobil berkualitas tinggi dan rendah, biasanya penjual menawarkan harga
yang setara dengan kualitas rata-rata mobil bekas yang ada dipasaran.

u  Sebagai penjual potensial mobil
berkualitas tinggi mereka menjaga reputasinya dimana mereka tidak akan menjual
mobil dengan harga yang tak sepadan dengan nilainya.

u  Jadi, seiring waktu informasi
asimetris ini dapat mengurangi jumlah mobil berkualitas tinggi di pasar mobil
bekas hingga terjadi market failures yang disebabkan hanya “lemon” yang
tersisa.

 

Hasil II :

u  pembeli
menginvestasikan waktu dan usaha untuk mengurangi ketidakpastian mengenai
kualitas produk. Dengan cara garansi, nama merek, dan reputasi membantu
mengurangi ketidakpastian pembeli mobil terhadap kualitas

 

Solusi

ü 
beberapa penjual memiliki dorongan untuk mencoba
menggunakan informasi asimetris untuk keuntungan mereka, namun banyak pula
pembeli yang menemukan cara mengatasi masalah asimetri tersebut.

ü 
Masalah lemon dikurangi karena pembeli dan penjual
menginginkan perdagangan terjadi dan karenanya memiliki dorongan untuk
menciptakan solusi kelembagaan yang memfasilitasi pertukaran. Masalahnya lenyap
saat pembeli memiliki jaminan kualitas mobil bekas dan dengan demikian penjual
bisa mengenakan harga yang cukup tinggi agar layak dijual. Bila pasar mobil
bekas dilihat dari perspektif proses pasar, ini jelas bukan pasar lemon.

Bagaimana
dengan pasar untuk pemain bisbol?

§  Pasar
itu juga tidak mungkin menjadi pasar bagi lemon karena memiliki beberapa
mekanisme kelembagaan untuk memberi pembeli jaminan kualitas pemain.

§  Pertama,
data tentang kinerja sejarah pemain, medis.

Manajer umum
perlu memperhatikan reputasi dan kemampuan mereka untuk melakukan perdagangan
masa depan, sehingga mereka cenderung melakukan perdagangan yang saling
menguntungkan daripada mencoba memperoleh keuntungan dari informasi asimetris.
Mengingat tingginya jumlah pemain berkualitas tinggi dan rendah yang
diperdagangkan setiap tahun, tampak bahwa mekanisme kelembagaan ini bekerja
dengan baik dalam memfasilitasi pertukaran        

 

                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

1.      Terdapat
beberapa penyebab dari kegagalan pasar antara lain kegagalan dalam persaingan;
adanya barang public; eksternalitas; pasar tidak lengkap; asimetris informasi;
adangya pengangguran, inflasi, dan ketidakseimbangan.

2.      Adapun
solusi dari mengatasi masalah tersebut dengan adanya campur tangan pemerintah
sebagai regulator dan pengontrol agar pasar berjalan sesuai dengan fungsinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Akerlov, George. A, 1970. The Market for Lemons : Quality
Uncertainty and Maket Mechanism. The Quarterly Journal of Economics. 84 (3).
MIT Pres.

Buchanan, James M. 1967. Public Goods in Theory and Practice: A Note on the Minasian-Samuelson
Discussion. Journal of Law and Eonomics 10″193-197.

Bussinessteacher.org.uk, t.t. Solution to the Lemon
Problem online http://www.businessteacher.org.uk/essays/business/solution-to-the-lemon-problem.php
(2 Desember
2014)

Econlib.org, 2008. George A. Akerlof online http://www.econlib.org/library/Enc/bios/Akerlof.html
(2 Desmber
2014).

Freeman; Dec 2007;57,10. Uneven
Information Causes Market Failure? It Just Ain’t So!. Academic Research
Library pg.6

Gilarso, T. 2004. Pengantar
Ilmu Ekonomi Makro. Kanasius, edisi revisi. Yogyakarta.

 

Journal Review: The Welfare Economics of the Welfare State

 

https://www.kompasiana.com/hodri/mekanisme-pasar-menurut-al-ghazali-hasil-kajian-korek_58600513749373aa0a3966d1

 

http://renamei77.student.umm.ac.id/2010/01/30/mikro-kegagalan-pasar/)

 

http://ajishida.blogspot.com/2009/04/kegagalan-pasar.html

Pang, Song-Yong. 2013. Market Failure and Government Failures. Palgrave Macmillan, United
Kingdom.

 

Samuelson, P.A. 1954. The
Theory of Public Fiannce. New York:McGraw-Hill

 

Sandmo, A. 1995. The
Welfare Economics of The Welfare State. The Scandinavian Journal of
Economics Vol, 97 No. 4, pp 469-476.

 

Sumber id.wikipedia.org/wiki/ekonomi_mikro

 

Ulbrich,
Holley H. 2003. Public Finance: In Theory
and Practice. Ohio:Thomson South Western

 

Wicaksono,
Kristian Widya. 2012. Barang Publik dan
Eksternalitas Pada Era Otonomi Daerah. Jurnal Jurusan Ilmu Administrasi Publik
Universitas Katolik Parahyangan.

 

 

 

x

Hi!
I'm Kara!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out