Di tidak memiliki perasaan dan semua bergantung pada program.

Di era teknologi dan informasi ini, artificial
intelligence sangatlah berperan dalam kehidupan sehari-hari. Arti
artificial Intelligence adalah sebuah mesin yang dapat berpikir, bertindak
secara rasional seperti layaknya manusia (Emspak, 2016). Salah satu bentuk artificial
intelligence adalah driverless cars atau mobil tanpa pengemudi.
Mobil ini diproduksi dengan tujuan meminimalisir angka kerusakan dan
memaksimalkan produktivitas manusia dengan mengurangi waktu mengemudi. Para engineer
dan programmer telah menyusun mobil ini dengan sedemikian rupa sehingga
fisik dan algoritma mobil dapat berkesinambungan. Apakah mobil tak berengemudi
ini memiliki algoritma yang pas apabila terjadi hal di luar ekspektasi dan
meminimalisir korban dan kerusakan? Mobil tidak memiliki perasaan dan semua
bergantung pada program. Namun manusia juga sering kali membuat keptusan
keliru, oleh sebab itu kami sebagai programmer mencoba untuk menentukan
etika yang paling optimal dalam pengambilan keputusan mobil bila terjadi hal di
luar kendali seperti kecelakaan.

 

Kami mengambil contoh kasus Trolley
Dilemma (Foot, 1967) untuk skenario ini, mungkin memang sedikit kurang
realistis jika dalam suatu insiden hanya terdapat sedikit pilihan dan semua
pilihan itu menimbulkan korban jiwa, tetapi ini murni untuk memberikan gambaran
umum saja. Dalam suatu video oleh Lin (2015) diberikan contoh kasus apabila
dalam suatu perjalanan di depan mobil tak berpengemudi ada banyak boks berat
jatuh dari sebuah truk dan mobil tidak dapat mengerem tepat waktu, apakah mobil
sebaiknya berbelok ke kiri dan menabrak SUV, atau berbelok ke kanan dan
menabrak pengendara sepeda motor, atau terus lurus dan menabrak boks tersebut?.
Jadi apakah mobil tak berpengemudi ini akan memprioritaskan keamanan nyawa
penumpang atau faktor resiko lain yang ada di jalan raya? (Shashkevich, 2017).
Mobil telah diprogram untuk meminimalisir korban, mobil akan cenderung
mengambil keputusan untuk mengorbankan sang penumpang demi keselamatan jiwa
yang lebih banyak. Namun, hampir semua orang berpikir secara egosentris,
mayoritas masyarakat pasti akan lebih memilih mobil yang memprioritaskan
keselamatan diri dan apabila semua orang berpikir seperti itu, tentu malah akan
menyebabkan korban jiwa yang lebih banyak (Rahwan, 2016).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Kami sebagai programmer harus
melihat dari perspektif produsen, konsumer, dan juga setiap manusia yang berada
di sekitar konsumer. Untuk mendapatkan algoritma etika mobil tak berpengemudi
ini, MIT (2016) telah didirikan suatu website bernama Moral Machine di mana
masyarakat dapat memilih keputusan yang menurut mereka terbaik pada suatu kasus
tertentu, data jawaban yang telah terakumulasi sudah mencapai lima juta per
November 2016. Data tersebut akan digabung dengan hasil pemikiran kami para programmer
untuk mencapai algoritma yang paling optimal.

 

Jika mobil tersebut diprogram untuk
mengambil keputusan yang menimbulkan lebih sedikit korban jiwa. Dengan standar
untuk meminimalisir korban maka menabrak SUV merupakan pilihan paling tepat, di
mana SUV memiliki struktur dengan tingkat keselamatan yang tinggi, sehingga
kedua pengendara hanya akan mendapatkan kerusakan minim. Hal ini mengikuti
etika deontology (Bentham, 1999), yaitu memprioritaskan kebenaran di mana
membunuh merupakan tindakan yang harus dihindari, dan sesuai dengan The Three
Laws of Robotics (Asimov, 1952), yaitu robot, dalam kasus ini mobil tak
bepengemudi, tidak boleh membiarkan manusia tersakiti atau terluka, kecuali
bila akan cenderung lebih menguntungkan bagi sang manusia itu secara general.
Hal ini sangat berbeda dengan etika relativism yang mana sang mobil akan
menabrak boks tersebut dan mengorbankan nyawa sang penumpang, sebab mengambil
keputusan yang dapat menyebabkan terlibatnya korban lain dinilai salah (Robers
IV, 2011). Tentu saja tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan memuaskan
seluruh pihak, yang terpenting adalah keputusan yang diambil akan menghasilkan
total kerusakan terminim secara keseluruhan.

 

Jadi, etika terpenting yang harus
diprioritaskan untuk mengambil keputusan adalah deontoloy mobil dapat mengambil
suatu resiko selama hasil akhir yang didapat merupakan hasil teroptimal, yaitu
meminimalisir jumlah korban dan kerusakan. Tentu algoritma etika tidak akan
cukup untuk merealisasikan hal tersebut, maka dari itu mobil tak berpengemudi
ini akan dilengkapi sensor ultrasonik yang membuatnya akan menjaga jarak dari
setiap objek menurut ukuran dan kecepatannya, sehingga mobil akan jauh dari
bahaya kargo jatuh dari truk besar (Hanson Robotics, 2017). Selain sensor
objek, mobil ini akan dilengkapi dengan sensor yang membiarkan setiap
driverless cars ini untuk saling mendeteksi satu sama lain sehingga bila
terjadi skenario seperti di atas, driverless cars lainnya akan minggir dan
memberikan jalan atau area gerak bagi mobil yang bersangkutan untuk mengambil
keputusan yang lebih baik. Mobil tidak berawak ini memang cukup baru dan belum
sempurna, tetapi kami akan terus memberikan fitur-fitur terbaik untuk
menyempurnakannya, dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat ini juga
sangat memungkinkan dalam beberapa tahun yang akan mendatang, mobil tidak
berpengemudi ini akan beroperasi di setiap jalan dan membuat lalu lintas
menjadi lebih aman.

 

x

Hi!
I'm Kara!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out